Kamis, 30 September 2010

LEBARAN

sedihnya lebaran kali ini, coz suami sedang ada tugas di negara Paman Sam. otomatis saya sendirian bertugas menjaga dan merawat anak-anak. tapi tidak apalah itukan memang sudah tugas dan kewajiban kita sebagai orang tua. toh suami juga pergi demi menjalankan tugasnya sebagai kepala rumah tangga dan kebahagiaan keluarga kami.
anak saya yang pertama sejak bayi memang sering sakit-sakitan, menurut dokter anak saya terkena alergi. saya juga bingung sebenarnya terkena alergi apa ya(menurut dokter anak sich alergi susu sapi, tapi sampai sekarang anak saya masih sering minum susu dancow Alhamdulillah gak apa-apa....???!!!), coz makan macam-macam juga gak apa-apa tuch....sampai sekarang anak saya masih sering sakit. setiap lebaran anak saya yang pertama selalu sakit batuk dan demam, jadi kami selalu langganan pergi ke dokter anak. begitu juga dengan lebaran kemarin, sakit batuknya tak kunjung sembuh meski obatnya sudah habis. saya di anjurkan oleh dokter anak, untuk membawa anak kami ke dokter THT. menurut dokter barangkali anak saya terkena infeksi telinga, sehingga sering batuk. padahal anak saya tidak pernah mengeluh pada saya bahwa telinganya merasakan kesakitan .
setelah anak saya benar-benar sehat, baru kemarin saya pergi ke dokter THT. sesampainya di rumah sakit ketika giliran dipanggil, anak saya merasa katakutan dengan sang dokter. ia nangis dan tidak mau diperiksa oleh dokter, hingga dokter memutuskan untuk memberi obat tetes telinga dan saya diharuskan kembali lagi minggu depan. semoga saja minggu depan dapat berjalan dengan lancar..... Amin

Rabu, 22 September 2010

Mengajarkan Toleransi dan Rasa Hormat pada Anak

Rabu, 22/9/2010

KOMPAS.com Kita hidup berdampingan dengan orang yang berbeda golongan. Ajarkan keindahan perbedaan itu dengan toleransi dan rasa hormat, bukan dengan adu gengsi atau kehebatan. Masih ingat pelajaran di sekolah dasar dulu? Mengenai kerukunan, mengenai persatuan, mengenai toleransi, dan negara kita dikenal sebagai negara yang rukun dan toleran? Sepertinya sudah lama sekali, ya? Ya, memang, hal-hal mengenai toleransi dan hormat kepada orang lain memang harus diajarkan kepada anak-anak sejak dini. Tak hanya untuk kebaikan dirinya di masa depan. Tetapi untuk orang-orang di sekelilingnya juga.

Tidakkah Anda jengah mendengar pemberitaan mengenai perseteruan dua kubu yang berkonflik? Seandainya ada rasa toleransi dan sama-sama bertoleransi dan menghormati, hingga bisa bicara dan menemukan jalan tengah, tak perlu ada rasa sakit hati hingga korban berjatuhan. Yuk, ajar di kecil apa artinya toleransi dan rasa hormat kepada orang lain yang bisa saja menganut pemahaman berbeda darinya.

Toleransi adalah kemampuan seseorang untuk menerima perbedaan dari orang lain. Hal ini baru bisa dilakukan oleh seseorang jika ia sudah merasakan dan memahami keterikatan, regulasi diri, afiliasi, dan kesadaran. Ketika ia sudah mampu menjaga hubungan yang sehat dan dekat, merasa berada dalam sebuah kelompok, serta merasa nyaman di dalamnya, juga mampu menilai sebuah situasi, melihat kekuatan, kebutuhan, dan ketertarikan orang lain.

Rasa hormat, merupakan kemampuan untuk melihat serta merayakan nilai di dalam diri kita dan orang lain. Butuh emosi, kognitif, serta kematangan sosial. Membangun rasa menghormati adalah tantangan seumur hidup, namun prosesnya dimulai sejak dini.

Berikut adalah hal yang perlu diingat oleh orangtua mengenai cara mengajarkan toleransi dan rasa hormat pada orang lain kepada anak oleh Bruce D. Perry, M.D, Ph.D, profesor di Thomas S. Trammell, Texas, Amerika.

Rasa aman
Toleransi dan rasa hormat tumbuh ketika anak merasakan keamanan. Ada dua faktor dalam diri anak untuk merasakan keamanan dalam dirinya. Pertama, adalah ia harus merasa bahwa dirinya spesial, berharga, dan diterima. Jika ia merasa diterima oleh orang lain, akan lebih mudah untuknya bisa menerima orang lain.

Yang kedua adalah level keterancaman anak dalam situasi baru. Otak memiliki sistem saraf yang menilai dan merespon pada ancaman potensial. Otak secara langsung akan memroses pengalaman baru sebagai hal yang negatif dan menilainya sebagai ancaman hingga terbukti kebalikannya. Jika ia berada dalam lingkungan yang ia kenal, pengalaman baru akan dinilainya sebagai keadaan aman dan menarik. Namun, jika keadaannya tak ia kenal dan mengancam, ia akan menilainya sebagai keadaan menakutkan.

Menghormati diri
Dalam hidup, kita pasti pernah merasa rendah diri dan tidak diingini. Ini adalah hal yang wajar. Dalam hidup, kita akan bertemu banyak orang. Semua orang tersebut akan kita jadikan parameter untuk menilai diri kita sendiri. Dari cara mereka memberi perhatian, dukungan, pujian, akan membuat kita merasa positif. Namun, saat seseorang memberi komentar negatif dan perasaan disakiti, kita akan menilai diri sebagai orang yang tak menarik dan inkompeten. Begitu pun anak kita.

Tak heran, kita akan lebih ingat kata-kata atau komentar negatif orang lain kepada kita, dan pujian atau masukan positif orang lain tak akan menghapus hal tersebut. Inilah alasan mengapa sebagian orang dewasa menilai diri cukup rendah dan sering marah kepada diri sendiri, alhasil mencari kambing hitam, mudah emosian, dan lainnya. Kadang, kita mengidolakan seseorang dan mencoba menjadi orang itu, saat kita tak bisa mencapai itu, kita marah pada diri sendiri, hingga yang keluar dari kita adalah hal-hal buruhk.

Anak yang butuh dorongan
Anak yang tak bisa bertoleransi akan menjadi tipe orang yang main hakim sendiri terhadap orang yang tidak serupa dengannya. Alhasil, ia akan cenderung mengejek orang lain, usil, bahkan bully atau jahat kepada anak lain. Anak yang tak memiliki kemampuan bertoleransi akan merasa insecure terhadap statusnya, kemampuannya, kepercayaannya, dan nilai yang ia miliki.

Sementara anak yang punya masalah dengan rasa hormat akan terlihat sebagai anak yang sulit bekerja sama, dan sulit menerima saudara kandungnya, orangtuanya, dan otoritas orangtuanya. Kebanyakan, anak semacam ini memiliki masalah dengan rasa hormat kepada diri sendiri dan tak percaya diri. Namun ia akan menutupinya dengan kesombongan dan membanggakan kekuatan serta kemampuannya. Hal-hal ini ia lakukan untuk menutupi kerapuhan dirinya.

Ciri-ciri lain adalah ketika anak mulai mengatakan, "Aku payah", "Aku nakal", "Aku enggak bisa bikin itu", "Aku bodoh", atau "Rafa lebih pintar dari aku". Anak yang rendah diri akan membatasi dirinya untuk berkembang. Ia tak mencoba cukup keras, hingga pada hasilnya, ia akan ketinggalan dari teman-temannya, lalu menilai rendah dirinya sendiri.

Yang bisa dilakukan:
* Buat anak merasa bahwa dirinya spesial, aman, dan dicintai. Jangan menghemat kata-kata pujian saat ia memang melakukan hal yang baik dan membanggakan. Anak yang dikasihi akan belajar mengasihi orang lain.

* Ciptakan sarana belajar tempat baru, orang-orang baru, dan budaya berbeda. Paparkan si kecil pada banyaknya perbedaan di dunia ini. Ada banyak buku, makanan, event budaya dan perayaan untuk dikenalkan padanya. Ajak ia ke acara-acara budaya, kenalkan ia akan ritual agama lain. Ajar anak untuk berinteraksi dengan orang yang berbeda darinya dengan cara yang sehat. Tak ada yang salah kok dari perbedaan, asal saling menghormati dan toleransi.

* Gunakan komentar positif untuk membentuk sikap si anak. Hindari penggunaan kata-kata "menuduh", seperti "Jangan begitu, dong!" Coba gunakan kata-kata alternatif yang mendidik tetapi tidak menyuruh dan membuatnya merasa rendah diri, misal, "Yang lembut ke adik, ya, dia masih kecil, gampang terluka."

* Tunjukkan caranya. Anak akan belajar untuk bersikap lebih baik, sensitif, dan menghormati orang lain dengan melihat Anda, orangtuanya, berdiskusi, berpikiran terbuka, dan menghargai orang lain (tidak pula menjelek-jelekkan orang lain karena golongannya berbeda dengan Anda).

Kamis, 26 Agustus 2010

Jangan Panik jika Anak Demam

Rabu, 18/8/2010

KOMPAS.com
Ukur suhunya jika anak demam lalu kompreslah, bukan langsung diberi obat.Demam tinggi pada anak memang berisiko kejang. Namun, jangan panik dulu jika mendapati anak demam. Dengan bersikap lebih tenang, orangtua bisa membantu anak melewati demam tinggi dan menormalkan suhu badannya kembali.

"Pertama kali yang harus dilakukan orangtua adalah tidak panik, lalu ukur suhu anak dan lakukan kompres untuk menurunkan suhu tinggi," papar Shanti, perawat dari divisi training RS Mitra Kemayoran, dalam talkshow Ibu dan Bayi di Balai Kartini beberapa waktu lalu.

Dengan kondisi ibu atau ayah lebih tenang, langkah selanjutnya dalam mengatasi anak demam adalah dengan mengukur suhu tubuh menggunakan termometer. Alat pengukur suhu ini sebaiknya melengkapi obat-obatan di rumah. Cara tradisional mengukur suhu tubuh agar tahu anak demam atau tidak adalah dengan menggunakan tangan.

"Gunakan bagian punggung tangan, bukan telapak tangan, dan tempelkan di bagian tubuh anak untuk mengetahui suhu anak tinggi atau tidak," papar Shanti.

Selanjutnya, kompres tubuh anak dengan waslap yang dibasahi air hangat seperti suhu ruang. Panas dari tubuh anak akan terserap oleh waslap. Menurut Shanti, sebaiknya jangan basahi waslap dengan air dingin, tetapi air hangat. Lalu biarkan beberapa saat hingga mengering, setelah itu basahi lagi.

"Karenanya, saat anak demam, pastikan orangtua menemani anak dan berulang kali mengganti kompres hingga demam turun," katanya.

Kompres ini bisa diletakkan di bagian tubuh tertentu di bagian yang terdapat pembuluh darah, seperti dahi, leher, ketiak, atau lipatan paha. Pada bagian tubuh inilah kompres bisa bekerja maksimal menurunkan suhu tubuh. Langkah ini merupakan pertolongan pertama bagi anak saat demam yang bisa dilakukan oleh orangtua saat di rumah.

Tujuh Langkah Membuat Si Kecil Lebih Cerdas

Senin, 23/8/2010

KOMPAS.com
Berjalan kaki bersama anak, sambil mengenalkannya pada aroma bunga dan rumput akan membantu si anak mengenal dan melatih menggunakan inderanya. Sejak kelahirannya, sensori anak sudah seperti spons. Mencoba memahami dunia lewat 5 inderanya; penglihatan, penciuman, peraba, pendengaran, dan perasa. Kualitas dari pengalaman ini akan makin dalam efeknya seiring perkembangan otak si bayi. Namun, sebagian orangtua berpendapat bahwa mainan mahal dan rumit akan membantu perkembangan otak bayi yang optimal. Padahal, interaksi sederhana, konsisten, namun mengajaknya berpikir akan membantu indera dan pikirannya.

Joshua Sparrow, MD, profesor psikiater di Harvard Medical School dan penulis Touchpoints-Birth to Three, merekomendasikan para orangtua membantu anak-anaknya menelusuri dunia melalui inderanya. Ketimbang membelikan si kecil mainan yang mahal tetapi hanya berfungsi satu arah saja untuk si anak, ajak ia berkelana mengenal dunia dengan tindakan sederhana seperti berikut:

1. Jalan Kaki Bersama Anak
Untuk kebanyakan ibu, berjalan kaki adalah cara yang menyenangkan untuk menenangkan si bayi dan cara yang mudah untuk mengembalikan bentuk tubuh usai melahirkan. Selain itu, berjalan kaki ternyata juga bisa membantu si kecil menggunakan inderanya. Misal, jika Anda berhenti sejenak untuk mencium aroma bunga mawar di pinggir jalan, bayi Anda tak hanya akan mengerti bahwa bunga memiliki aroma, tetapi juga bisa menyentuh kelopak bunga tersebut (hati-hati durinya), melihat warna cantiknya, dan mendengar penjelasan Anda.

2. Merapikan Baju
Merapikan baju untuk orang dewasa mungkin akan menjadi hal menjemukan, sebaliknya untuk anak-anak, hal tersebut akan menjadi aktivitas yang menyenangkan. Misal, Anda dan si kecil sedang mengangkat dan melipat baju dari jemuran. Anda bisa tanyakan kepada anak balita Anda, "Handuknya harum, ya? Atau, baju piyama kamu harum, ya? Atau, terasa lembut ya, pakaian Mama?"

3. Rutinitas Pagi yang Berarti
Menyuapkan makanan atau membantu si anak memakai baju adalah kegiatan yang menggunakan kelima indera si kecil. Anda bisa tambahkan percakapan saat melakukan ritual harian ini. Anda bisa tanyakan kaus berwarna apa hari ini, jika ia bilang ingin minum jus apel atau susu hari ini, tanyakan mengapa. Atau, tanyakan beda rasa kain yang ia kenakan hari ini. Komentar-komentar yang berdatangan saat ia makan, memakai baju, berbelanja, menyetir, dan hal-hal rutin lainnya yang menjadi bagian keseharian adalah cara yang baik untuk mengajak si kecil menggunakan kelima inderanya. Hal ini juga akan membentu membangun kemampuan berbicara dan keterikatan interpersonal.

4. Berakting
Memang, saat anak beranjak besar, kita tak perlu mencoba untuk melakukan aksi berakting di depannya setiap saat. Anda tak perlu lagi melakukan permainan ci luk ba setiap saat seperti ketika ia masih beberapa bulan. Tetapi, Anda bisa mencoba membuat semacam teater musikal orangtua-anak. Idenya adalah untuk berfokus pada aktivitas yang menyangkut hubungan dengan orang lain sebagai sumber stimulasi. Suara Anda bisa menjadi hal yang sangat menghibur bagi bayi Anda ketimbang suara robot dari mobil-mobilan. Plus, dari segi visual, akting Anda bisa membuatnya amat tertarik. Pikirkan diri Anda sebagai mainan yang sangat bagus, Anda bisa menjadi boneka lucu, menenangkan, cepat, berisik, tak bersuara, dan lainnya, sesuai dengan respon dari wajah serta tubuh si anak.

5. TV? Boleh, kok
Adalah hal yang wajar ketika orangtua butuh waktu untuk mengurus dirinya sendiri atau hal lainnya. Anda tak perlu merasa bersalah jika Anda memberikan waktu si anak untuk menonton televisi selama setengah jam sehari. Asalkan dalam waktu yang masuk akal dan bisa ditolerir, tak masalah untuk si kecil menonton televisi. Namun, perlu diingat, bahwa makin lama ia duduk di depan televisi, makin lama ia tertahan untuk tidak berinteraksi dengan manusia lain, Anda, dan dunia realitas.

6. Perlahan Saja
Setiap anak memiliki kecepatan perkembangan yang berbeda-beda. Setiap anak itu unik. Asalkan ia tidak dibiarkan berkembang sendiri, anak bisa berkembang. Untuk setiap perkembangan sensori dan motorik anak, jangan terburu-buru. Perlu diingat pula, bahwa setiap anak memiliki keunikan tersendiri. Belum lagi ada pula kemungkinan hambatan pada anak. Gejala awal bahwa si kecil memiliki hambatan antara lain; kesulitan untuk mengikuti obyek yang bergerak dengan matanya saat ia memasuki usia 4 bulan, menolak untuk dipeluk, atau respon yang kurang cepat saat ada suara kencang atau panggilan Anda. Untuk kasus-kasus seperti ini, coba konsultasikan dengan dokter anak secepatnya.

7. Jangan Berlebihan
Ketika mencoba membantu anak untuk mengeksplorasi lingkungannya, entah itu dengan jalan-jalan, berbincang, atau lewat mainan tertentu, Anda ingin mencoba memberikan secukupnya, jangan berlebihan. Supaya si kecil terhindar dari overstimulasi, cobalah untuk berfokus pada interaksi natural dan mainan yang sederhana, seperti blok kayu, ujar pendiri Explorations Early Learning, LLC, Jeff Johnson. "Sejujurnya, menurut saya, kebanyakan kamar anak dihiasi dengan begitu banyak mainan, warna, dan stimulasi yang berlebihan sehingga si anak akan menjadi kesulitan untuk memilih mainan yang ingin difokuskan," tambahnya.

7 Cara Mengubah Perilaku Anak

Selasa, 24/8/2010

KOMPAS.com - Kegagalan membuat anak mematuhi perintah sering memaksa Anda untuk menggunakan teriakan atau cara kekerasan lain. Sebagian orangtua mungkin merasa sedikit stres saat mengasuh anak. Anak-anak zaman sekarang lebih pintar, begitu mungkin kata Anda, sehingga selalu punya alasan untuk tidak mematuhi peraturan. Mereka selalu tahu bagaimana membantah ucapan Anda.

Hal ini membuat Anda khawatir anak-anak tidak merespons apapun yang Anda minta. Bila sudah merasa gagal meminta anak melakukan apa yang Anda mau, Anda pun langsung balik merespons dalam bentuk bentakan, pendek kata yang bisa menunjukkan power Anda sebagai orangtua. Anda berusaha mengembangkan pola pengasuhan yang berbeda, namun tetap tak ada hasilnya. Maklum, sikap membangkang anak-anak itu sudah terbentuk sejak lama sehingga sulit untuk diubah.

Benarkah sudah terlambat untuk mengubah cara mengasuh anak-anak ketika karakter mereka sudah terbentuk? Menurut James Lehman, terapi perilaku anak-anak, tidak ada kata atau terlambat untuk mengubahnya. Mungkin memang tidak gampang, tetapi ada cara efektif yang bisa mulai Anda lakukan untuk mengubah cara Anda merespons dan memperbaiki perilaku anak-anak.

1. Tentukan hal yang dapat Anda lakukan lebih dulu. Salah satu hal yang menghambat adalah ketika Anda tidak mengetahui harus mulai dari mana. Namun, mulailah dari hal-hal sederhana yang menempatkan anak dalam kondisi berisiko secara emosional maupun fisik. Misalnya, ketika anak menciderai anak tetangga, merusak mainannya, atau nekad menyeberang jalan. Tentu Anda tidak dapat mengubah semuanya sekaligus. Anda harus mulai membicarakan tentang nilai-nilai dan moral kepada anak-anak, hal-hal yang membahayakan dirinya dan anak-anak lain.

2. Mulailah satu-persatu. Ketika anak merasa kesal lalu masuk ke kamar dan membanting pintunya sambil membentak Anda, lakukan satu hal yang ingin Anda ubah pertama kali. Anda bisa menegurnya dengan mengatakan, "Jangan menyumpah, itu tidak sopan dan tidak menyelesaikan masalah. Lagipula, kamu bikin Ibu sedih. Bisa enggak lain kali kamu tidak menyumpah ketika sedang kesal?" Lalu, berikan pilihan mengenai apa yang harus dilakukannya. Misalnya, masuk ke dalam kamar supaya bisa menenangkan diri. Setelah urusan menyumpah itu selesai, Anda bisa menuju ke persoalan lainnya. Ubahlah satu demi satu perilaku yang Anda rasa salah. Jangan mencoba untuk mengatasi semuanya sekaligus.

3. Jelaskan perubahan yang Anda inginkan. Jika Anda akan melakukan pendekatan baru saat menghadapi perilaku anak yang salah, ada baiknya apabila Anda menjelaskan alasannya kepada si buah hati. Mungkin hal tersebut akan membuat anak Anda marah dan frustrasi. Namun jangan biarkan kemarahan tersebut dijadikan anak untuk berargumentasi dengan Anda. Katakan bahwa Anda mengerti bahwa ia kesal, namun minta ia untuk bekerja sama sebagai sebuah keluarga. Disarankan juga agar Anda tidak berbicara panjang-lebar, tidak spesifik, dan tidak terfokus, agar anak lebih mudah menerima atau memahami apa yang Anda inginkan.

4. Katakan kepada anak tujuan Anda mengubah peraturan. Dengan mengatakan tujuan yang diharapkan, Anda memberikan kepercayaan kepada buah hati Anda untuk membantu mewujudkan perubahan tersebut. Sangat penting untuk menyadari bahwa apa yang keluar dari mulut Anda tidak selalu dipahami anak seperti yang Anda inginkan. Ketika anak tidak mengerti apa yang Anda bicarakan, mereka dapat menjadi frustrasi, khawatir, dan marah, meskipun mungkin mereka mencoba untuk tetap tenang. Apapun itu, Anda dapat mengatakan, "Mari kita lihat jalan keluarnya." Itu adalah salah satu cara untuk mendekati anak Anda dan mengubah persepsi hubungan antara Anda dan dia.

5. Membatasi peluangnya. Jika Anda khawatir anak akan melakukan sesuatu yang merugikan, salah satu yang dapat Anda lakukan adalah membatasi peluang anak untuk melakukan hal-hal tersebut. Misalnya, si ABG Anda senang mengendarai mobil dengan ceroboh. Ia tidak mau menuruti aturan Anda untuk mengemudi dengan aman. Maka yang bisa Anda lakukan adalah menyita mobilnya. Itulah yang terjadi ketika Anda membatasi peluang anak untuk membawa mobil. Membatasi peluang adalah salah satu cara paling sederhana untuk membentuk perilaku anak. Anda bisa mengembalikan mobil tersebut ketika ia sudah bisa menunjukkan perubahan perilakunya.

6. Jangan mengharapkan empati anak. Meminta empati bukanlah pendekatan yang dapat meyakinkan anak Anda, terutama bagi anak-anak remaja yang cenderung kurang berempati pada orang lain. Untuk mengubah sesuatu, Anda harus menunjukkan akibat yang ditimbulkan dari perilaku anak Anda. Jika ingin anak Anda berhenti berbohong, Anda harus dapat melakukan suatu cara agar anak menyadari akibat dari kebohongan yang dilakukannya. Dengan begini, Anda tidak perlu bergantung pada empati anak Anda.

7. Tetapkan batas dan beri konsekuensi. Salah satu hal yang penting dalam mengasuh anak adalah menetapkan batasan pada mereka. Anda memang tidak dapat mengatur anak untuk melakukan sesuatu sesuai harapan Anda. Namun, Anda dapat mengarahkan anak untuk melakukannya. Misalnya, Anda meminta anak untuk masuk ke kamar dan tidur. Tetapi, anak tidak mau tidur. Maka, Anda bisa mengajaknya masuk ke kamar, dan membuatnya mengantuk. Anda bisa mengombinasikan konsekuensi dan motivasi agar anak pun bisa mengantuk. Katakan, "Kalau tidak cepat tidur, besok bisa bangun kesiangan." Lalu, padamkan lampu kamarnya, dan matikan televisi atau radionya. Inilah yang akan membantunya untuk mengantuk.

Ingat, konsekuensi adalah alat untuk mencapai tujuan. Konsekuensi yang "efektif" adalah ketika anak mulai merespons, meskipun hanya sesaat. Dengan demikian, Anda tidak perlu menggunakan hukuman yang lebih besar.

Jadi, apakah sekarang Anda mengetahui bagaimana cara untuk mengubah gaya pengasuhan Anda?

Sabtu, 14 Agustus 2010

Pahami Anak dari Golongan Darahnya

Selasa, 10/8/2010

KOMPAS.com - Keunikan adalah salah satu sifat dasar kita. Salah satunya terlihat dari golongan darah. Dr Peter J. D'Adamo, ahli naturopati Amerika Serikat yang mempopulerkan diet golongan darah, mengatakan bahwa golongan darah kita menunjukkan kesamaan kita. Bahkan, dalam bukunya yang berjudul Live Right for Your Type (Bhuana Ilmu Populer, 2008), D'Adamo mendedikasikan satu bab khusus membahas tentang golongan darah dan kepribadian seseorang.

D'Adamo bukan orang pertama yang mempercayai hal itu. Pada tahun 1970-an, Masahiko Nomi menulis What Blood Types Reveal about Compatibility yang sukses di Jepang hingga sekarang. Ia meneliti 10.000 responden untuk membuktikan pendapatnya bahwa setiap golongan darah memiliki pembawaan tertentu. Ketika meninggal pada tahun 1981, anak laki-lakinya, Toshitaka Nomi, meneruskan penelitiannya. Hasilnya adalah pengetahuan mengenai karakter dasar anak-anak.

Sampai sekarang, teori ini masih menuai banyak kritik. Toge Aprilianto, psikolog, berpendapat, "Pembagian karakter anak berdasarkan golongan darah boleh saja dijadikan pengetahuan untuk membantu orangtua, tetapi sebaiknya jangan dijadikan acuan utama."

Sifat seseorang dipengaruhi oleh banyak hal. Bahkan sejak masih berada dalam kandungan. Kita perlu melihat keunikan anak-anak satu per satu, demikian saran psikolog khusus anak dari Surabaya ini. Seperti apa karakterisasi kepribadian menurut golongan darah?

Golongan darah O
Ciri khas golongan darah O adalah berapi-api. Tak heran, ia sering disebut pencipta gairah. Si golongan darah O juga cenderung melakukan sesuatu tanpa bertanya. Misalnya, Anda memintanya membeli cat tembok. Anak O tidak merasa perlu tahu mengapa orangtuanya perlu cat atau bagian rumah mana yang akan dicat.

Anak O juga memiliki sejuta alasan untuk sejuta keadaan. Itu sebabnya, mereka terkenal pandai menutupi segala sesuatu agar keadaan tetap terkontrol. Namun, kalau sudah tidak tahan, ia akan "kabur", sulit diajak kompromi. Sifatnya yang sangat menonjol adalah murah hati. Mudah menghakimi, namun mudah juga memaafkan. Kadang keras kepala, kadang sangat fleksibel terhadap pendapat orang lain. Memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi dan senang risiko.

Saran pola asuh: Anak O sebaiknya tidak diperintah-perintah. Orangtua cukup memberitahu apa yang diinginkan. Kalau perlu dengan penjelasan, tapi usahakan singkat tanpa berkesan menekan. Sesudahnya, biarkan dia memikirkan sendiri apa yang harus dilakukannya. Ketika sedang mengambek, beri waktu sebanyak-banyaknya agar ia bisa pulih. Ingat, O terbiasa menahan stres hingga batas paling akhir. Sehingga, ketika marah atau sedih, ia sulit untuk melupakannya.

Golongan darah B
Golongan darah ini punya sifat kreatif. Anak B juga cenderung penasaran dan memiliki minat terhadap banyak hal. Hal ini diimbangi dengan kemampuannya melakukan beberapa pekerjaan sekaligus. Suka mencoba-coba ini dan itu, sebelum menentukan apa yang benar-benar disukainya.

Anak B tidak takut terhadap segala macam aturan. Ia easy going, dan sangat menikmati hidup. Meski kadang tindakannya mengejutkan banyak orang, B tetap santai dan tidak terpengaruh oleh pendapat orang lain. Jika merasa ditekan, ia akan "menggigit" balik. Kalau merasa diremehkan, ia akan membuktikan bahwa ia bisa mendapat perhatian.

Saran pola asuh: Terhadap anak B, orangtua sebaiknya memberi penjelasan terlebih dahulu sebelum memintanya melakukan apapun. Biarkan anak mencoba minatnya yang luas, sambil diarahkan sedikit-sedikit ke arah bakat yang sebenarnya. Tak perlu panik jika akhirnya anak memilih berenang, berkuda, dan musik sekaligus. Memang begitulah karakter golongan darah B. Ia adalah si Multitasking.

Golongan darah A
Tipe yang paling penurut. Takut terhadap risiko, tetapi sangat detail dalam mengerjakan sesuatu. Melanggar aturan, tidak ada dalam kamus si A. Dia juga mudah dipimpin dan diarahkan.

Anak A sangat terorganisasi dan berhati-hati. Karenanya ia bisa dipercaya mengerjakan pekerjaan yang menuntut ketelitian. Serius, kalem, dan berkepala dingin. Golongan darah A juga sangat tertutup. Ia tidak suka memiliki terlalu banyak sahabat. Sedikit sekali orang yang bisa dipercaya olehnya.

Saran pola asuh: Jika orangtua ingin anak A jadi lebih pemberani, berilah "jaminan keselamatan" ekstra padanya. Beri penjelasan tentang apa saja secara mendetail padanya. Ia akan percaya apa yang Anda katakan memang benar, dan tidak mencelakakannya. Poin terakhir ini sangat dibutuhkan oleh anak A.

Golongan darah AB
Kaum yang satu ini sangat unik. Cara pikirnya cenderung tidak umum. Religius, sentimental. Semuanya dipikirkan dengan sangat dalam. Golongan darah AB adalah gabungan dari golongan darah A dan B. Itu sebabnya, anak bergolongan darah AB seperti berkepribadian ganda. Sedikit bersifat A dan sedikit bersifat B.

Anak AB suka berteman, tapi terkadang lebih suka menyendiri. Agak sulit menggambarkan karakter golongan darah AB. Kata yang tepat untuknya adalah sulit untuk dimengerti.

Saran pola asuh: Sebaiknya orangtua proaktif bertanya jika tidak mengerti atau khawatir akan tindakan si AB. Jangan langsung menghakimi. Pelan-pelan amati tingkah laku dan kemauannya, baru kemudian diarahkan dan diberi pengertian.

Meski Bekerja, Ibu Tetap Berperan Mengasuh Anak

Selasa, 10/8/2010

KOMPAS.com - Pilihan Anda dan pasangan untuk tetap bekerja seringkali mengharuskan Anda menitipkan buah hati kepada orang lain. Namun, sesibuk apapun, mengasuh dan mendidik anak tetap menjadi peran utama dari orangtua, terutama ibu. Jadi jangan lantas menyerahkan semua peran pengasuhan kepada pengasuh atau pekerja rumah tangga (PRT).

Prinsip inilah yang diterapkan presenter, Shahnaz Haque dan penyanyi, Anggun. Meskipun sibuk bekerja, kedua figur ternama ini tidak lantas menyerahkan semua peran pengasuhan kepada orang lain, termasuk pengasuh/PRT.

Anggun, saat ditemui usai peluncuran produk perawatan rambut, bergegas pulang karena pukul 21.00 Kirana Cipta Montana Sasmi, puterinya, sudah waktunya tidur.

"Aku ingin sudah ada di sampingnya sebelum anakku tidur," katanya selintas saat bergegas meninggalkan lokasi acara. Sebelumnya, Anggun sempat berbagi pengalaman. Perempuan yang khas dengan rambut panjangnya ini, mengaku memiliki pengasuh bayi, namun tugasnya bukan mengasuh namun menjaga saat ia pergi meninggalkan Kirana untuk bekerja.

"Nanny tugasnya menjaga, bukan mengasuh," katanya tegas.

Ditemui di kegiatan berbeda, Shahnaz mengaku memiliki pengasuh yang juga melakukan pekerjaan rumah tangga. Artinya, pengasuh yang juga PRT, bertugas memastikan rumah dan anak aman selama ditinggal orangtua bekerja.

"Pengasuh di rumah tugasnya lebih kepada menyaksikan, menjaga, mengawasi semua berjalan baik, dan apakah anak aman," katanya kepada Kompas Female, usai peluncuran rumah parenting untuk konsultasi orangtua di Jakarta beberapa waktu lalu.

Shahnaz pernah mengalami persoalan yang seringkali dialami ibu bekerja, yaitu pergi ke kantor dan meninggalkan anak dengan rasa bersalah. Dengan berkonsultasi kepada pakarnya, ibu tiga puteri ini menemukan formula ampuh. Apalagi pasangan drummer Gilang Ramadhan ini memang sudah mengajarkan anak tumbuh mandiri sejak dini.

"Saya menyiapkan bekal untuk dibawa anak ke sekolah. Caranya buatlah note atau teka teki, surat cinta sisipkan di atas bekal anak. Simpan catatan kecil ini dan berikan kepada anak saat dewasa, ini sangat membangun ikatan ibu dan anak," tuturnya.

Melalui cara ini, ibu dapat membangun komunikasi, ikatan emosi dengan keterbukaan tanpa ada yang disembunyikan, dan selain itu melatih korespondensi. Anak juga akan menyimpan kenangan ini dalam memorinya. Dengan menuliskan tanggal di catatan kecil tersebut, lalu membacanya kembali saat dewasa dan saat anak menikah, akan menciptakan hubungan berharga ibu dan anak kelak. Jadi, meski Anda bekerja dan tak bisa meluangkan waktu bersama beberapa jam, kedekatan emosi antara anak dan orangtua tetap terjaga baik.

Melatih anak mandiri agar tak bergantung pada nanny
Kemandirian anak, kata Shahnaz, perlu dibangun sedini mungkin. Kebiasaan mengenakan baju sendiri, memakai sepatu, makan tanpa disuapi pengasuh, telah diajarkan Shahnaz sejak ketiga puterinya masih kecil. Kini, saat ketiganya sudah memasuki usia sekolah, kemandirian yang sudah terbangun sejak usia empat tahun itu mengurangi ketergantungan terhadap orang lain, termasuk pengasuh.

"Saya tidak memiliki satu nanny untuk setiap anak," candanya.

Melatih kemandirian anak merupakan bagian dari peran pengasuhan ibu. Karakter anak mandiri perlu dibangun dan diajarkan oleh ibu atau ayah, bukan orang lain. Untuk menciptakan karakter anak mandiri, orangtua tak perlu merisaukan banyak hal, seperti meja makan berantakan.

"Tak perlu risau saat sayur menjadi 'shampo', meja makan berantakan, saat anak sedang belajar melakukan semua sendiri," Shahnaz mencontohkan.

Untuk mengetahui apakah anak sudah mulai mandiri bisa dilihat dari tangisannya. Kata Shahnaz, indikasi anak mandiri atau bahagia, jika menangis tak perlu waktu lama. Anak-anak boleh menangis, namun anak mandiri akan cepat diam dan tak lama menangis yang sifatnya menarik perhatian. Anak menangis karena memang sakit karena terjatuh, misalnya, bukan berusaha menarik perhatian orangtuanya dengan cara berlebihan.

Menyenangkan memiliki anak yang tumbuh sehat dan bahagia bukan? Kemandirian menjadi tolok ukurnya sehingga Anda dan pasangan tak lagi risau meninggalkannya bersama pengasuh.