Blog ini didedikasikan untuk pengembangan ilmu Psikologi secara aplikatif. Renungan harian pun akan menjadikan blog ini semakin kaya akan informasi. Selamat membaca!
Tampilkan postingan dengan label psikologi anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label psikologi anak. Tampilkan semua postingan
Rabu, 17 September 2014
Terapi untuk Anak Korban Kekerasan Seksual
KOMPAS.com Rabu, 16 April 2014
- Segala bentuk kekerasan berakibat buruk, baik fisik maupun psikis. Bahkan, jika tidak segera ditangani, perkembangan dan pertumbuhan anak akan terganggu.
Kekerasan seksual yang dialami anak-anak tidak selalu menimbulkan dampak langsung. Hal ini karena pemahaman seorang anak pada peristiwa yang dialaminya berbeda-beda. Pada anak usia remaja, mereka langsung mengerti peristiwa kekerasan seksual akan merusak hidupnya sehingga reaksi mereka akan langsung terlihat.
Menurut psikiatri anak dr.Tjhin Wiguna Sp.A, meski tidak langsung terlihat dampaknya, tapi anak membutuhkan pendampingan dan harus terus dipantau kondisinya.
"Dokter atau psikiater akan melakukan assesment, apakah ada masalah emosi atau perilaku pasca peristiwa tersebut. Kalau belum ada, tetap dipantau karena mereka beresiko tinggi mengalami gangguan perilaku," katanya ketika dihubungi KompasHealth (16/4/14).
Anak-anak adalah korban yang harus mendapat perhatian dan dukungan dari orang di sekitarnya agar luka fisik serta trauma psikisnya bisa disembuhkan.
Terapi untuk anak yang menjadi korban, jelas Tjhin, bermacam-macam. Untuk anak yang masih kecil biasanya dilakukan terapi bermain. "Misalnya anak diajak menggambar untuk membantu anak mengekspresikan perasaannya," katanya.
Selain itu bisa juga dilakukan terapi kognitif dan berbagai terapi lain sesuai kondisi anak. "Tujuan awalnya adalah menjalin emosi dengan anak sehingga anak tetap bisa mengekspresikan perasaannya meski tidak selalu lewat kata-kata," ujarnya.
Orangtua bisa mencari bantuan untuk terapi anak ke psikolog atau psikiater untuk memulihkan luka batin anak. Di RSCM Jakarta antara lain juga terdapat klinik pemulihan stres pasca trauma, poliklinik jiwa anak dan remaja, atau pusat krisis terpadu yang terdapat di RS Polri Jakarta dan juga RSCM.
Kamis, 26 September 2013
Pola Asuh Buruk Bisa Picu Skizofrenia
Rabu, 18 September 2013
KOMPAS.com-Buruknya pola asuh orang tua dapat menyebabkan anak rentan mengalami stres saat menginjak dewasa. Stres yang berkepanjangan dapat membuat mereka berisiko gangguan jiwa seperti skizofrenia.
Anak yang terbiasa dimanja misalnya, akan terus bergantung pada kedua orangtuanya hingga dewasa. Anak dengan pola asuh dimanja tidak terbiasa hidup mandiri. Kondisi ini tentu menyulitkan ketika anak sudah beranjak dewasa.
“Anak dengan pola asuh seperti ini besar kemungkinan mudah menderita stres. Stres yang terus terjadi bukan tidak mungkin menimbulkan berbagai halusinasi dan menyebabkan skizofrenia,” kata psikiater dari UGM dr. Mahar Agusno Sp.KJ (K).
Pola asuh yang memanjakan, kata Mahar, tidak memberikan anak kesempatan belajar tanggung jawab. Padahal, seiring bertambahnya usia tanggung jawab anak semakin bertambah. Perlahan anak akan bertanggung jawab atas diri sendiri dan lingkungannya. Bila tidak terbiasa bertanggung jawab sejak dini, hal tersebut akan menimbulkan tekanan.
“Anak harus berlajar tanggung jawab sejak dini, minimal pada apa yang dilakukannya. Tentunya beban tanggung jawab harus dipikul seiring usia,” kata Mahar.
Pola asuh, kata Mahar, juga mengajarkan bagaimana anak berkomunikasi. Pola asuh yang baik akan memudahkan anak mengkomunikasikan apa yang ada di hati dan pikirannya. Pendapat anak kemudian didengarkan dan mendapat feed back dari keluarganya. Kondisi ini bisa terjadi bila anak tidak merasa tertekan dengan pola pengasuhan dari kedua orangtuanya.
Hal yang sama terjadi bila anak hendak meminta sesuatu. Anak bisa mengkomunikasikan apa yang diinginkan dengan jelas dan tegas kepada orangtua. Bila tidak dituruti, anak tidak mengeluarkan reaksi berlebihan dan mau mendengarkan alasan orangtua.
“Anak dengan pola asuh baik tidak tantrum bila keinginannya belum terpenuhi. Sebaliknya anak yang dengan tantrum keinginannya bisa terpenuhi, akan melakukan hal yang sama berulang kali. Ketika tantrum ada emosi yang tidak terkatakan, hal inilah yang kemungkinan memunculkan ilusi,” kata Mahar.
Pola asuh yang tidak imbang antara ayah dan ibu, juga memperbesar kemungkinan anak menderita skizofrenia. Kondisi terlalu dekat atau terlalu jauh dengan salah satu, akan menghasilkan anak dengan kapasitas adaptasi yang buruk. Akibatnya anak mudah tertekan dan memicu ketidakseimbangan dopamin, yang merupakan penyebab terjadinya skizofrenia. Pola asuh yang buruk, jelas Mahar, akan menghasilkan kepercayaan diri yang rendah. Akibatnya, ketika dewasa anak lebih suka masuk ke dunia khayalan dibanding menghadapi masalah yang membebaninya.
“Sedapat mungkin jadilah orangtua yang baik. Ajak anak berkomunikasi, dengar pendapatnya, dan jelaskan dengan baik kenapa dia boleh atau tidak melakukan sesuatu. Hal ini akan membantunya beradapatasi ketika dewasa dan terhindar dari skizofrenia,” kata Mahar.
Ini Tanda-tanda Anak Terkena "Bullying"
Senin, 23 September 2013
KOMPAS.com — Perilaku bullying atau penindasan terhadap orang lain kerap dialami oleh anak-anak. Perlakuan ini dapat mereka alami di lingkungan sekolah ataupun di rumah. Sayangnya, anak kerap segan membicarakannya.
Padahal menurut riset University of Warwick dan Duke University Medical Centre, Amerika Serikat, anak yang terkena bullying 6 kali lebih berisiko terkena penyakit serius saat dewasa. Mereka juga lebih cenderung merokok dan menderita gangguan kejiwaan.
Oleh sebab itulah, penting artinya bagi para orangtua mengenali sejak dini gejala atau tanda-tanda anak yang terkena bullying. Pencegahan dan penanganan sejak dini akan menyelamatkan mereka dari ancaman gangguan jiwa di masa dewasanya.
Untuk mengenali tanda anak korban bullying, hasil penelitian yang satu ini dapat dijadikan rujukan. Riset para ahli dari University of Padua, Italia, menunjukkan, anak yang terkena bullying memiliki gejala psikosomatis yang khas. Gejala ini meliputi sakit perut, pusing, sulit bernapas, demam, dan sakit punggung.
Kesimpulan ini didapat setelah mempelajari 30 riset yang mencakup 220 ribu anak dari 14 negara. Hasil riset ini menjadi kabar baik bagi orangtua dan guru, yang kerap tidak tahu anaknya tengah di-bully.
"Hasil penelitian ini menganggap gejala fisik yang akhir-akhir ini dialami dan tidak bisa dijelaskan, bisa menjadi tanda bahaya bullying," kata Gianluca Gini peneliti dari University of Padua.
Selain dari fisik, tanda anak yang sedang mengalami bullying juga bisa dilihat dari tingkah lakunya. Peneliti Marlene Snyder dari Clemson University, South Carolina, mengatakan, gejala fisik yang dirasakan korban bullying segera hilang saat dikatakan anak tidak perlu pergi sekolah.
Synder mengatakan, tanda ini juga bisa dilihat dari tingkah laku anak lainnya, yaitu takut pada pesan SMS yang masuk, atau tersugesti lawan yang kerap mem-bully sedang duduk bersama saat makan siang.
Bila tanda fisik dan tingkah laku ini diketahui, sebaiknya orangtua segera berbicara dengan anak. Bila perlu, orangtua dapat menghubungi guru di sekolah untuk mengetahui, benarkah anak menjadi korban bullying.
Langganan:
Postingan (Atom)